Rabu, 27 Mei 2009

There Is no time

"Begitu padatnya jadwal membuat waktu begitu sempit bahkan untuk bernapaspun terasa sulit buat mereka"
Anda mungkin mahfum kalau tentara adalah salah tempat dimana disiplin menjadi ikon yang paling penting disana. Ya, pendidikan yang menomorsatukan kedisiplinan menjadi barometer bagi tentara untuk mendidik kadet kadet bangsa ini untuk menjadi pengawal negri ini, maka wajar kalau kemudian tentara mengklaim bahwa mereka adalah yang terbaik dalam menerapkan kedisiplinan. Tetapi menurut saya tidak sepenuhnya urusan kedisiplinan itu melulu hanya monopoli oleh tentara, pengalaman saya berada hanya selama 20 jam di Pesantren Gontor 6 telah membuktikan sipil bisa membuktikan bahwa displin memang bukan hanya dominasi tentara.
Pesantren Gontor 6 adalah salah satu cabang pesantren gontor yang terletak di daerah pegunungan / berbukit, letak antara asrama siswa dengan masjid harus ditempuh dengan menuruni dan kemudian menaiki kembali puluhan anak tangga. Kalau anda kurang terbiasa untuk berjalan dengan kondisi tersebut, hanya sekedar berjalan dari tempat asrama ke masjid saja cukup membuat napas anda terengah - engah. Tapi itu tidak berlaku bagi lebih dari 700 santri yang bermukim di pesantren tersebut, rute itu mereka jalani setiap hari dengan enjoy.
Saya tiba dipesantren itu kurang lebih pukul 12.00 setelah sebelumnya sempat membeli makan siang untuk adik saya yang termasuk santri di pesantren tersebut. Agak lama juga saya menunggu adik saya menyelesaikan waktu sholat dzuhurnya setelah belajar di ruang kelas dari 07.00 s.d. 12.00 untuk mengajaknya makan siang ( waktu istirahat pada siang hari adalah 12.00 s.d. 13.00, waktu ini digunakan untuk makan siang dan istirahat ).
Sekitar 12.15 adik saya baru menyelesaikan sholatnya untuk kemudian menuju kamarnya menyimpan buku pelajaran, setelah menunggu beberapa lama kemudian saya baru bisa mengajaknya makan siang. Sepertinya waktu makan siang kemudian mengajaknya mengobrol tentang keadaannya begitu cepat berlalu sebab tidak lama kemudian adik saya harus kembali lagi ke kelas melanjutkan belajarnya.
Sehabis istirahat siang sampai waktu ashar adalah waktu jam belajar kedua, baru keemudian setelah sholat ashar adalah waktu yang bisa digunakan untuk sedikit melepas lelah, eit nanti dulu waktu ini juga digunakan oleh sebagian besar santri untuk berolahraga selain juga ada beberapa santri yang mengisinya dengan tugas membersihkan halaman.
Seperti halnya isitrahat siang istirahat sore ini pun benar - benar berlalu dengan cepat, setelah berolahraga maka para santri kemudian bergegas untuk bersih diri dan selanjutnya mempersiapkan diri untuk ke masjid menunaikan sholat magrib. Selepas magrib kegiatan diisi dengan Tilawah Qur'an sampai 18.30 dilanjutkan dengan makan malam.
Seperti halnya makan siang waktu untuk makan malam pun terasa sangat sempit, sebab ketika makan malam selesai maka mereka pun harus kembali bergegas menunaikan sholat isya. Setelah sholat isya kembali kegiatan dilanjutkan dengan belajar, beberapa kelas pembelajarannya diasuh langsung oleh wali kelas atau mereka belajar dalam kelompok mengerjakan tugas dari guru. Sampai disini saya kurang tahu kegiatan selanjutnya ( saya memutuskan untuk istirahat lebih awal ), tetapi biasanya setelah aktifitas belajar malam selesai maka sekitar pukul 21.00 mereka bersegera untuk beristirahat.
Pukul 04.30 mereka sudah dibangunkan untk persiapan sholat subuh, kemudian ( mungkin tilawah dahulu ) berolahraga pagi bersama ( lari pagi ). Selesai lari pagi mereka bersih diri untuk kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi, sekali lagi waktu di pagi hari pun sangat cepat berlalu bahkan ketika sedang sarapun pun bel peringatan untuk masuk kelas sudah berbunyi.
Jam 06.45 mereka sudah bersiap untuk belajar dalam kelas sampai pukul 09.00. untuk kemudian selama setengah jam mereka beristirahat sampai 09.30. Jam 09.30 s.d. waktu dzuhur mereka melanjutkan proses belajar, setelah itu prosesnya berulang setiap hari seperti itu.
Sejujurnya saya melihat bahwa anak - anak ini harus benar - benar punya tingkat mobilitas yang tinggi, sebab selain waktu yang sangat singkat buat mereka jarak antara asrama dengan masjid maupun ruang kelas membuat mereka betul - betul harus mampu memperhitungkan dengan tepat kapan mereka harus bergerak, sebab terlambat saja salah satu kegiatan akan berimbas pada kegiatan lainnya.
Sebagai contoh jika mereka telat dalam besih diri itu akan berimbas pada waktu makan mereka yang sempit, dan jika mereka juga masih terlena dengan waktu makan yang lama maka akan berimbas pada ketelatan mereka menghadiri proses belajara di ruang kelas.
So, semua pekerjaan benar - benar harus melalui sebuah perhitungan yang matang dan tepat. Dua hal yang membuat saya kagum, pertama adalah mereka baru kelas 1 smp s.d. 3 sma, waktu dimana rekan - rekan mereka banyak menghabiskan waktu di mall - mall hanya untuk sekedar nongkrong atau berjalan - jalan. Kedua mereka melakukan itu semua untuk mendedikasikan dirinya untuk menuntut ILMU.
Seperti yang saya ungkapkan diatas waktu bagi mereka adalah sesuatu yang sangat berharga, mereka baru menikmati kebebasan bergerak setiap hari jum'at ( hari libur ). Sebuah pemandangan yang terkadang membuat saya malu karena melihat begitu tingginya mobilitas mereka, dan tentu saja berbeda dengan kita yang begitu senang dan mudahnya mengulur waktu dan pekerjaan.
Jadi kalau selama ini tentara mengklaim mereka terbaik dalam hal kedisiplinan maka sesungguhnya menurut saya belum ada apa2xnya dibandingkan dengan santri - santri yang menuntut ilmu tersebut.
Akhir kata menurut saya tidak salah bukan kalau saya mengatakan " Begitu padatnya jadwal membuat waktu begitu sempit bahkan untuk bernapaspun terasa sulit Buat mereka".

1 komentar:

armouris mengatakan...

info tentang sarapan pagi kat sini - Sarapan Pagi Kuatkan Otak